-->

Dyatlov Pass, Terpecahkan! Misteri Kematian 9 Pendaki Rusia

Dyatlov Pass, Terpecahkan! Misteri Kematian Sembilan Pendaki Rusia di Gunung Kholat Syakhl

Dyatlov Pass, Terpecahkan! Misteri Kematian 9 Pendaki Rusia - Tragedi 'Dyatlov Pass' merupakan sebuah peristiwa penuh misteri dan mematikan yang menimpah Sembilan pendaki Ski ketika melakukan pendakian di Pegunungan Ural pada 2 Februari 1959. Kejadian yang menewaskan seluruh kelompok pendaki ini terjadi di area timur Gunung Kholat Syakhl (Холат Сяхл) yang memiliki arti “Gunung Mati”.

Tewasnya semua tim pendakian dan tidak adanya kelompok lain membuat peristiwa ini tidak memiliki saksi mata kejadian, selain itu kurangnya investigasi kematian pendaki ini alhasil juga melahirkan berbagai spekulasi teori kontroversi.

Tragedi ini menjadi diselimui misteri karena banyaknya kejanggalan yang menimpah sembilan pendaki bahkan jika dinilai ari kondisi korbannya. Bayangkan saja, para peneliti menjelaskan bahwa korban behasi ditemukan dengan kondisi yang aneh, ada dua korban yang mengalami retak dibagian tengkorak, dua lagi mengalami patah tulang rusuk serta ada juga yang kehilangan lidahnya.

Tak hanya kondisi korban, hasil investigasi juga menyebutkan jika keadaan pakaian korban yang ditemukan juga mengandung tingkat radiasi sangat tinggi. Menyikapi hal ini, peneliti soviet hanya menjelaskan jika ada sebuah kekuatan aneh tidak dikenal sebagai penyebab kematian para pendaki.

Pasca terjadinya peristiwa mematikan dan penuh misteri ini, akhirnya akses menuju kawasan tersebut ditutup selama 3 tahun. 


Latar belakang Pendakian Dyatlov Pass

Dyatlov Pass merupakan nama dari sebuah kelompok pendaki ski yang dipimpim oleh Igor Dyatlov. Sebagian besar tim pendakian ini adalah lulusan dari Institut Politeknik Ural atau saat ini dikenal dengan Ural State Technical University. Sebenarnya latar belakang dari tim pendakian ini merupakan kelompok yang telah berpengalaman dalam pendakian gunung. 

Tujuan Ekspedisi tim pendakian ini adalah Otorten (Отортен) yang merupakan sebuah gunung yang dalam Bahasa Mansi memiliki arti “Gunung Orang-Orang Mati”. Arti namanya yang menyeramkan bukan sekedar nama, ntah apa yang mebuatnya mendapatkan julukan itu, namun orang pribumi selalu mencoba untuk tidak mendatangi tempat itu. 

Gunung Otorten berada di bagian atas Sungai Pechora, perbatasan  Sverdlovsk, Perm, Provinsi Tyumen  dan Republik Komi, jika dari lokasi korban Dyatlov Pass gunung ini masih berjarak 10 Km ke arah timur.



Anggota Pendaki Dyatlov Pass

Sebenarnya latar belakang dari tim pendakian ini merupakan kelompok yang telah berpengalaman dalam pendakian gunung.  Dipimpin oleh Igor Dyatlov, tim pendakian Dyatlov Pass terdiri atas 9 laki-laki dan 1 wanita. Berikut adalah daftar namanya:

  1. Igor Dyatlov
  2. Zinaida Kolmogorov
  3. Lyudmila Dubinina
  4. Alexander Kolevatov
  5. Rustem Slobodin
  6. Yuri Krivonischenko
  7. Yuri Doroshenko
  8. Nicolai Thibeaux-Brignolle
  9. Alexander Zolotarev,
  10. Yuri Yudin

Igor Dyatlov, Zinaida Kolmogorova, Lyudmila Dubinina, Alexander Kolevatov, Rustem Slobodin, Yuri Krivonischenko, Yuri Doroshenko, Nicolai Thibeaux-Brignolle , lexander Zolotarev, dan Yuri Yudin


Kronologi Peristiwa Dyatlov Pass

Tim pedakian kala itu mengambil sebuah rute Kategori III. Perjalanan awal dimulai pada 25 Januari 1959 dimana tim tiba di Ivdel, Provinsi Utara Oblast Sverdlovsk  menggunakan Perjalanan Kereta Api. Dari sana mereka berpindah menggunakan truk untuk selanjutnya menuju ke Vinzai.

Akhirnya pada tanggal 27 Januari, tim pendaki Dyatlov mulai melakukan perjalanan menuju Otorten. Namun, satu hari setelahnya salah seorang anggota Bernama “Yuri Yudin” mendadak sakit dan akhirnya memilih untuk kembali karena tak dapat melanjutkan perjalanan dan disinilah kelompok pendaki mulai beranggotakan 9 orang.

Berdasarkan hasil investigasi dari barang bukti buku harian dan kamera yag ditemukan di camp area terakhir tim Dyatlov, diketauhi jika pada tangal 31 Januari tim pendakian telah tiba di pinggir sebuah datara tinggin dan tengah bersiap untuk pendakian lebih lanjut.

Diketauhi juga jika kala itu mereka berada di sebuah lembah dan sedang berusaha mengumpulkan kayu bakar serta mempesiapkan makan dan me-management perlengkapan untuk perjalanan kembali.

Perjalanan dilanjutkan pada 1 Februari, Tim pendakian berjalan melalui sebuah Pass (Celah) yang nampaknya rute ini diambil karena tim menghindari badai dan berniat mendirikan camp pada sisi yang berlawanan.

Akan tetapi, kondisi cuaca yang sangat buruk dengan badai salju membuat visibilitas menurun dan akhirnya membuat tim keluar dari jalur dengan menyimpang kea rah barat menu Kholat Syakhl Peak. Berselang cukup lama, tim akhirnya menyadari kesalahan tersebut dan dari sini tim memilih untuk berhenti untuk berkemah di lereng gunung.

Sebelumnya Dyatlov telah menginformasikanjika dia akan mengirim pesan telegram ke klub olaraga setelah kelompok kembali ke Vizhai, serta durasi pendakiannya sendiri pada awalnya diperkirakan tidak lebih dari tanggal 12 Februari. Namun, hingga pada tanggal tersebut pesan telegram belum juga dikirim serta tak ada pula pemberitauhan keterlambatan.

Pada tanggal 20 Februari, operasi penyelamatan pertama yang dilakukan dengan gabungan siswa dan guru dari lembaga olaraga serta tantara, tim sar dan polisi mulai dikerahkan menggunakan berbagai hal  termasuk pesawat dan helikopter.

Hampir seminggu dari pencarian gabungan ini tak membuahkan hasil, hingga pada tanggal 26 februari para pencari berhasil menemukan camp Dyatlov yang ditinggalkan di Kholat Syakhl.

Kondisi camp yang ditemukan sangat mengerikan dngan tenda terlihat rusak parah. Kemudian didapati juga jejak kaki menuju hutan. Di tepi hutan, dibawah pohon pinus tim pencari juga berhasil menemukan bekas kebaran bersama dengan dua mayat atas nama Krivonischenko dan Doroshenko dengan kondisi mengenakan pakaian dalam tanpa sepatu.

Jarak camp dan hutan pinus ini berada lebih dari 500 meter, lalu diantara camp dan pinus ini tim pencari kembali berhasil menemukan tiga mayat selanjutnya. Mayat ini adalah Dyatlov, Kolmogorova dan Slobodin yang berdasar hasi investigasi diketauhi jika ketiganya meninggal dan menunjukan pose berusaha kembali ke camp.

Ketiga mayat tersebut ditemukan secara terpisah pada jarak 300, 480 dan 630 meter dari pohon pinus. Total lima mayat pendaki telah ditemukan, sementara untuk empat mayat lainnya rupanya baru ditemukan dalam waktu lebih dari dua bulan yaitu pada 4 Mei dengan lokasi berada empat meter dari salju disebuah jurang dan jauh dari pohon pinus.


Investigasi Korban Dyatlov Pass

Investigasi korban telah dilaksanakan setelah menemukan lima mayat pertama. Disini tim medis tidak menemukan indikasi kematian disebabkan karena cidera jadi mereka menyimpulkan bahwa mereka meninggal karena hipotermia.

Sementara pemeriksaan fisik menunjukan jika salah seorang korban mengalami retak kecil di tengkoraknya, tapi bukan merupakan luka fatal. Sedangkan hasil pemeriksaaan empat mayat yang ditemukan pada bulan Mei memiliki hasil akhir yang berbeda dengan pernyataan hipotermia sebagai penyebab kematiannya.

Tiga dari empat korban ini mengalami cidera fatal, tengkoran Thibeaux Brignolle mengalami kerusakan parah dan Dubunina serta Zolotarev mengalami patah tulang dada. Kematian dari mereka disinyalir disebabkan kekuatan dengan daya rusak sangat tinggi. 

Guna mendapati penjelasan, peneliti keudian mulai membandikan dengan korban akibat kecelakana mobil. Terutama mengingat bagian tubuh internal tidak mengalami luka dan seolah mere semua lumpuh dan tewas akibat tekanan sangat tinggi.

Salah seorang Wanita dari tim pendaki Dyatlov juga memiliki kejanggalan dari hilangnya bagian lidah. Spekulasi awal menyebutkan kemungkinan jika ia telah diserang oleh kelompok adat Mansi karena alasan pelanggaran hak perbatasan tanah.

Akan tetapi teori tersebut kembali dipatahkan berdasar hasi investigasi yang menjelaskan bahwa jejak kaki dari wanita ini terlihat sangat wajar dan tidak meninjukan tanda-tanda kekerasa ataupun penyerangan.

Peneliti dan tim investigasi juga menyimpulkan bahwa terjadi sesuatu yang memaksa atau membuat tim Dyatlov keluar dari camp. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya mayat yang hanya mengenakan celana dalam meskipun suhu sekitar sangat rendah hingga dibawah -25 °C.

Tim investigasi juga menambahkan jika dilihat dari kasus hipotemia, bisa saja kelompok tersebut mengalami hipotermia berat dan akhirnya kesadaran mereka jadi hilang. Terutama dari hasil file pemeriksaan yang menyebutkan bahwa enak orang meninggal akibat hipotemia dan tiga lagi kaena luka-luka.

Tidak ada indikasi orang lain selain sembila pendaki Dyatlov di Kholat Syakhl jadi teori pembunuhan tentu saja tidak bisa dibuktikan. Terlebih lagi diketauhi jika tenda dirusak dari dalam seakan mereka berusaha untuk kabur.

Dari waktu makan malam terakhir mereka diketauhi jika para korban meninggal sekitar 6-8 Jam setelahnya. Jejak kaki dari camp yang ditemukan juga menyebutkan jika semua anggota kelompok meninggalkan tenda atas kehendaknya sendiri.

Memecahkan teori pembunuhan suku Mansi, dokter juga menunjukan jika luka fatal dari tiga korban tidak mungkin disebabkan oleh kekuatan manusia. Adapun luka fatal yang nampak disebabkan pukulan sangat kuat ini memiliki keanehan dimana jaringan lunak korban tidak ada yang rusak.

Sementara hasil mengejutkan lain dari tes forensik menyebutkan bahwa pakaian beberapa korban mengandung tingkat radioaktif akibat radiasi sangat tinggi. Putusanakhir dari peneliti Rusia menyebutkan jika kelompok tersebut meninggal karena suatu kekuatan yang tidak dketahui.

Penyelidikan-pun akhirnya resmi dihentikan pada Mei 1959. File investigasi kasus Dyatlov dikirim ke sebuah arsip rahasia, sementara fotocopy kasusnya hanya tersedia hingga tahun 1990-an engan beberapa bagian yang hilang.


Kontroversi Insiden Dyatlov Pass

Disamping berbagai teori yang telah ada, beberapa peneliti mengklaim jika masih ada beberapa fakta yang tak mendapatkan jawaban, mungkin diabaikan atau bahkan berusaha ditutupi sehingga membuat Berita Dyatlov pada saat itu memiliki berbagai konroversi. 

Pasca pemakaman korban, keluarga korban menjelaskan bahwa kulit mendiang menjadi sangat aneh berwarna cokelat orange tidak selayaknya mayat pada umumnya.

Dalam sebuah wawancara pribadi, Seorang mantan perwira juga menjelaskan bahwa dosimeter menunjukan tingat radiasi sangat tinggi dikawasan Kholat Syakhl, dan hal inipula yang akhirnya menjadi jawaban dari ditemukannya radiasi di anggota tubuh dan pakaian korban.

Berjarak sekitar 50 Km ke selatan lokasi kejadian Dyatlov Pass pada tanggal yang sama, kelompok pendaki lain melaporkan jika mereka melihat bola orange di area utara atau senderung searah dengan Kholat Syakhl.

Penuturan tersebut sangat mirip dengan apa yang diamati berbagai saksi termasuk meteorologi dan militer di Ivdel pada februari-maret 1959. Adapula laporan yang menyebutkan bahwa terdapat besi tua terletak di area tesebut sehingga muncu spekulasi bahwa militer menggunakan area tersebut secara diam-diam dan mungkin terlibat dalam upaya menutupi fakta kasus ini.


Misteri Dyatlov Pass Terpecahkan

Tragedi penuh misteri yang menewaskan Sembilan pendaki ski dipegunungan Ural, Uni Soviet pada tahun 1959 akhirnya mulai mendapati titik terang melalui percobaan ilmiah. Tragedi penuh misteri ini memang pada mulanya melahirkan berbagai spekulasi teori konspirasi, mulai dari penculikan alien, pembuhan oleh kelompok adat Mansi hingga campur tangan percobaa nuklir Uni Soviet.

Meskipun telah berlangsung lebih dari 50 tahun lalu, kasus ini kembai dibuka dan diselidiki oleh Dua ilmuwan asal Swiss, guru besar geoteknik di ETH Zurich, Alexander Puzrin dan Kepala Laboratorium penelitian longsoran salju di Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne Johan Gaume.

 

Misteri Dyatlov Pass terpercahkan oleh Alexander Puzrin dan Johan Gaume

Serangkaian percobaan ilmiah telah dilakukan selama lima tahun terakhir, hingga pada 2021 kedua peneliti ini merilis sebuah teori awal yang menyimpulkan bahwa camp area dari kelompok Dyatlov ini mengalami Slab Avalanche atau longsoran salju datar yang mungkin saja terjadi bahkan di lereng datar sekalipun.

Ekspedisi lanjutan kemudian digelar untuk membuktikan teori Slab Avalanche. Teori ini pada awalnya mendapat banyak kritikan dengan asumsi camp area Dyatlov pada waktu itu berada di lereng yang relative datar sehingga mustahil untuk longsoran salju bisa terjadi. Tak hanya itu, kondisi korban juga ditemukan dengan banyak ketidaklaziman akibat longsoran salju.

Ekspedisi kedua mereka dilakukan pada 28 Januari 2022, di ekspedisi kali ini rekaman video disiapkan untuk membuktikan jika area tersebut tetap memungkinkan untuk terjadi longsoran salju. Mereka menilai jika rekawan ini dapat menjadi rekonstruksi paing aurat dari apa yang menimpah tim pendaki Dyatlov.

dikutip dari artikel ilmiah yang terbit di Jurnal Communications Earth & Environment pada 24 Maret 2022, Puzrin dan Gaume  menjelaskan “Dengan percobaan terkini awal tahun ini, berarti sudah ada kali ekspedisi yang secara meyakinkan mengungkap kondisi di Jalur Dyatlov,”.

“Kesimpulan kami sejalan dengan penelitian independen yang dilakukan pakar salju asal Rusia saat melakukan permodelan pola longsoran di lokasi tersebut.” Tambah Puzrin dan Gaume.

Menurut mereka longsoran ini dapat menjadi pemicu dan alasan kenapa para pendaki pada saat itu berusaha untuk keluar tenda dengan panik sampai merobek tenda dari dalam meskipun tidak mengenakan pakaian suhu rendah.

Kedua peneliti ini juga menjelaskan jika longsoran ini bisa terjadi aibat pemasangan pasak tenda yang dilakukan tim pendaki Dyatlov. Mereka menambahkan jika ada eberapa lapisan salju di area sekitar yang sangat mudah terpicu getaran meskipun tidak terlalu besar, getaran ini akan memicu longsoran beruntun yang dapat berlangsung hingga beberapa jam sebelum mengubur tenda.

Untuk masalah luka-luka yang dialami korban, peneliti ini menympulkan bahwa itu tejadi secara alamiah seperti dimakan binatang liar.

Puzrin dan Gaume juga berhasil menemukan bukti bahwa jalur pendakian Dyatlov memilik permukaan tanah berupa terasering jika tidak tertutup salju. Hal ini bisa menjadi bukti kuat dari teori Slab Avalanche, terlebih lagi kondisi geografis ini sangat susah untuk ditebak bahkan oleh pendaki professional sekalipun.

Teori peneliti asal Swiss juga didukung dengan pernyataan pendaki asal Ekaterinburg Rusia, Oleg Demyanenko dan Dmitriy Borisov yang memaparkan jika cuaca di lokasi tersebut dapat berubah dengan cepat bahwan bisa memicu longsoran salju mendadak.

Puzrin dan Gaume akhirnya menyimpulkan jika sifat unik area sekitar pada saat itu tentu menjadi alasan tim SAR tidak dapat mengindikasikan sempat terjadi longsoran salju disekitar camp pendaki Dyatlov.

Meskipun memiliki simpulan akhir yang sedemikian rupa, Puzrin dan Gaume tidak menyebut jika kasus telah terpecahkan sepenuhnya. Kasus ini masih menyisakan berbagai tanda tanya seperti pakaian yang terkontaminasi radioaktif dengan tingkat radiasi tinggi.

“Bila ditanya apakah kasus Dyatlov sudah terjawab sepenuhnya, kami akan menjawab setidaknya tugas kami sudah tuntas dilakukan. Kami tidak ingin menghabiskan seumur hidup memecahkan semua detail dari tragedi pendakian ini,” Jelas Puzrin dan Gaume. Baca juga: Pintu Aplikasi Jual Beli Crypto Terpercaya di Indonesia.


0 Response to "Dyatlov Pass, Terpecahkan! Misteri Kematian 9 Pendaki Rusia"

Post a Comment

jangan diisi

iklan dalam artikel

iklan display

Iklan dalam feed