-->

Mengenal Konservasi Satwa Liar: Pemeliharaan Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati

Tujuan dari berbagai program pengelolaan satwaliar adalah untuk mengendalikan populasi atau sebaran spesies.......
Foto Satwa Liar di Taman Nasional Alas Purwo| Source: Pinterest


Satwaliar merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui dan Indonesia, sebagai negara tropis, memiliki keragaman satwaliar yang sangat tinggi. Dalam kerangka strategi konservasi dunia, program pengelolaan satwaliar di Indonesia mencakup tiga aspek utama: perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Upaya perlindungan dan pelestarian satwaliar di Indonesia telah mencapai hasil yang positif.

Namun, program pemanfaatan satwaliar masih menghadapi sejumlah hambatan. Hambatan tersebut termasuk:

1. Peraturan Perundangan: Masih ada kekurangan dalam kerangka hukum yang mengatur pengelolaan satwaliar. Peraturan perundangan yang jelas dan komprehensif diperlukan untuk memandu praktik pengelolaan yang berkelanjutan.

2. Kesadaran dan Persepsi Masyarakat: Kesadaran dan persepsi masyarakat tentang pentingnya konservasi masih perlu ditingkatkan. Peningkatan pemahaman akan manfaat dan kebutuhan untuk menjaga satwaliar dapat mendukung upaya pelestarian.

3. Pengetahuan Biologi dan Teknologi: Pengelolaan satwaliar memerlukan pengetahuan biologi dan teknologi yang canggih. Keterampilan dan pengetahuan yang lebih mendalam dalam hal ini dapat membantu memaksimalkan manfaat dari satwaliar.

4. Tenaga Terampil: Keterampilan dan sumber daya manusia yang terampil dalam pengelolaan satwaliar sangat penting. Pelatihan dan pendidikan yang tepat dapat membantu mengatasi hambatan ini.

Untuk menjadikan program pengelolaan satwaliar lebih berhasil, diperlukan upaya yang komprehensif, termasuk perbaikan dalam kerangka hukum, peningkatan kesadaran masyarakat, peningkatan pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan tenaga terampil di bidang ini. Ini akan membantu memastikan bahwa pemanfaatan satwaliar berlangsung dengan berkelanjutan dan mendukung konservasi alam.

Apa itu Satwaliar?

Dalam berbagai literatur asing yang berkaitan dengan pengelolaan satwaliar, istilah "wildlife" sering digunakan, yang pada dasarnya mengacu pada hewan yang hidup di alam liar. Istilah "wildlife" dapat diartikan sebagai "hidupan liar," yang mencakup kelompok tumbuhan dan hewan yang ada di lingkungan alam. Namun, dalam konteks buku ini dan sejak diterbitkannya buku "Pengelolaan Satwaliar Jilid I" pada tahun 1989, istilah "satwaliar" telah lebih banyak digunakan dan diartikan sebagai hewan yang hidup liar.

Satwaliar mencakup berbagai jenis vertebrata yang hidup di alam liar dan berinteraksi dengan lingkungannya atau berada dalam suatu ekosistem alami. Pengelolaan satwaliar menekankan pentingnya menjaga baik populasi maupun habitatnya. 

Tujuan dari berbagai program pengelolaan satwaliar adalah untuk mengendalikan populasi atau sebaran spesies vertebrata, baik untuk tujuan perlindungan alam maupun untuk kepentingan manusia secara langsung, berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. Awalnya, pengelolaan satwaliar lebih fokus pada burung dan mamalia. Pengelolaan ikan secara terpisah telah berkembang pesat, sedangkan pengelolaan amfibi dan reptil baru mendapat perhatian ketika mereka berada dalam bahaya punah.

Meskipun banyak contoh yang diambil dari burung dan mamalia dalam buku ini, prinsip-prinsip yang disajikan dapat diterapkan pada semua kelas vertebrata, termasuk amfibi, reptil, dan ikan. Vertebrata akan termasuk dalam definisi satwaliar jika mereka hidup di lingkungan alam yang tidak dibatasi oleh pagar atau di daerah yang luas, seperti suaka alam, taman nasional, hutan lindung, dan hutan alami. Hewan yang ada di kebun binatang atau taman safari tidak termasuk dalam kategori satwaliar. Sebagian besar satwaliar yang ditemui di kebun, pekarangan, atau hutan produksi adalah burung dan mamalia kecil yang telah dipengaruhi oleh aktivitas manusia.

Pengertian satwaliar juga harus dilihat dalam konteks asosiasi alamiah dengan lingkungannya di mana satwaliar telah mengalami evolusi. Di alam, spesies satwaliar dapat beradaptasi dan memanfaatkan lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebagai contoh, sejumlah banteng (Bos javanicus) yang ditemukan di Cagar Alam Pananjung Pangandaran adalah contoh satwaliar. 

Namun, ketika hewan-hewan seperti kambing gunung yang berasal dari Taman Nasional Kerinci Seblat dilepaskan di kebun binatang atau taman safari, mereka mungkin kehilangan sifat-sifat asli mereka karena terpaksa beradaptasi dengan kondisi lingkungan fisik yang berbeda. Demikian pula, ketika beberapa ekor rusa dilepaskan di Hutan Wisata dataran, rusa tersebut mungkin berubah perilaku dan kebiasaannya karena harus beradaptasi dengan pengunjung, yang akhirnya membuat mereka menjadi jinak.

Sebagai akibatnya, nilai keaslian rusa di Taman Nasional Pananjung Pangandaran berubah karena mereka telah beradaptasi dengan manusia dan lingkungannya, sehingga mereka mungkin tidak dapat lagi disebut sebagai satwaliar. Kemampuan hewan untuk beradaptasi dengan lingkungannya memiliki dampak besar pada tingkat kealamiannya, yang sering kali sangat khas dan unik.

Pengelolaan satwaliar, seperti dalam pengelolaan SDA yang dapat diperbarui lainnya, dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian hasil (sustained yield principle). Istilah "sustained yield" kemungkinan diambil dari istilah yang biasa digunakan dalam pengelolaan hutan yang berarti panen berkelanjutan. Prinsip dasar ini berarti bahwa satwaliar dapat dipanen secara berkala tanpa mengurangi potensi perkembangbiakan mereka, dan diharapkan akan ada lebih banyak individu yang dapat dipanen di masa depan. 

Untuk mencapai hasil panen maksimal, diperlukan strategi pengelolaan yang mempertimbangkan habitat, populasi, atau keduanya. Pada populasi yang kecil atau di habitat yang miskin, di mana pertumbuhan populasi lambat, panen mungkin sebaiknya tidak dilakukan. Panen di sini mengacu pada jumlah individu satwaliar yang dapat dimanfaatkan secara langsung. 

Di dalam kawasan berburu, misalnya, sejumlah individu satwaburu dapat diburu sesuai dengan aturan untuk tujuan olahraga berburu. Di pengelolaan suaka margasatwa dan taman nasional, populasi satwaliar dapat dikurangi ketika populasinya berlebihan. Dalam pengelolaan penangkaran, baik dalam game farming maupun game ranching, satwa atau bagian-bagiannya dapat dipanen sesuai dengan tujuan pengelolaan.

Seiring dengan perkembangan waktu, konsep dan tujuan pengelolaan satwaliar telah berkembang. Berikut beberapa definisi dari beberapa ahli dalam pengelolaan satwaliar:

1. Pengelolaan satwaliar adalah teknik rekayasa ekologi untuk menghasilkan satwaliar setiap tahun untuk rekreasi (Leopold, 1933).

2.Pengelolaan satwaliar adalah proses rekayasa lahan dan air untuk menghasilkan tumbuhan dan satwaliar secara berkelanjutan (Trippensee, 1948).

3. Pengelolaan satwaliar adalah ilmu dan seni yang mengelola perubahan dan interaksi antara habitat dan populasi untuk mencapai tujuan pengelolaan agar satwaliar dapat hidup dan berkembang biak dengan normal (Giles, 1971).

4. Pengelolaan satwaliar adalah seni mengelola lahan dengan tujuan menghasilkan populasi satwaliar yang sehat dan sejahtera (welfare) (Bailey, 1984).


Pembagian Klasifikasi Satwaliar

Pembagian satwaliar ke dalam beberapa golongan memudahkan pengelolaannya dan dapat didasarkan pada berbagai kriteria seperti ukuran, habitat, perilaku, serta manfaat dan kerugiannya bagi manusia. Pembagian ini tidak memiliki standar yang baku, sehingga berbagai negara atau wilayah mungkin memiliki sistem klasifikasi yang berbeda. 

Di Amerika Serikat, sebagai contoh, satwaliar dibagi menjadi delapan golongan, termasuk "big game" (satwa besar), "small mammal" (mamalia kecil), "waterfowl" (burung air), "shore and upland birds" (burung pantai dan pegunungan), "fish" (ikan), "non-game" (satwa yang tidak diburu atau dipanen oleh manusia), dan "endangered species" (spesies yang terancam punah).

Selain itu, terdapat kriteria lain yang digunakan dalam pembagian golongan satwaliar, seperti yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (2) Peraturan Perburuan Jawa dan Madura 1940, yang mencakup berbagai jenis satwaliar berdasarkan karakteristik dan manfaat bagi manusia:

1. Binatang liar yang elok: Contohnya termasuk banteng, kerbau air, jenis-jenis rusa, kijang, dan burung merak.

2. Binatang liar yang kecil: Termasuk jenis-jenis kancil, kelinci, burung-burung tertentu, dan lainnya.

3. Binatang liar yang berpindah-pindah: Melibatkan jenis-jenis burung yang berpindah-pindah, seperti burung trulek, terik, dan lainnya.

4. Binatang liar yang merugikan: Ini mencakup binatang seperti babi hutan, harimau, macan tutul, dan buaya laut.

5. Binatang yang merugikan: Termasuk kera abu-abu, kalong, ajag, luwak, dan berbagai jenis binatang lainnya yang dianggap merugikan.


Daftar Pustaka:

Bailey, J.A. (1984). Principles of Wildlife Management. John Wiley & Sons, New York.

Giles, R.H. (1971). The Approach. Dalam Wildlife Management Techniques, diedit oleh R.H. Giles, 1-4. The Wildlife Society, Washington, D.C.

Leopold, A. (1933). Game Management. Charles Scribner, New York.

Trippensee, R.E. (1948). Wildlife Management. Upland Game and General Principles. McGraw-Hill Book Co., Inc., London.

0 Response to "Mengenal Konservasi Satwa Liar: Pemeliharaan Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati"

Post a Comment

jangan diisi

iklan dalam artikel

iklan display

Iklan dalam feed