-->

Mitos Legenda Gunung Semeru: Dalam Kitab Kuno Tantu Pagelaran

 

Mitos Legenda Gunung Semeru Sebagai Paku Pulau Jawa Dalam Kitab Tantu Pagelaran, Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman. Dewa-dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa.

Gunung Semeru selain menjadi daya tarik wisatawan pendaki karena panorama alam yang mengagumkan terutama dari sisi ikonik Semeru yaitu sebagai puncak tertinggi jawa yang sekaligus menjadi salah satu dari Seven Summit Indonesia dan danau Ranu Kumbolo yang sangat sakral dan fenomal, rupanya gunung yang terletak  dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang meliputi 4 kabupaten yaitu Lumajang, Malang, Probolinggo dan Pasuruan, juga terkenal oleh kaum agama hindu di Indonesia dari cerita dalam kitab kuno tantu pagelaran tentang Dewa Wisnu, Dewa Brahma dan dewa-dewa lainnya. 

Kebanyakan orang hanya akan tertuju pada wilayah Bromo tentang segala cerita kuno yang berkembang di daerah itu, seperti cerita legenda pembentukan lautan pasir dan upacara kasada, belum lagi banyak kegiatan keagamaan setempat yang kerap dilaksanakan berbagai saat.

Dikutip dari akun instagram  @jejak_pendaki , berikut adalah penuturan dan penjelasan tentang mitos legenda gunung semeru dalam kitab tantu pagelaran yang terkenal dalam penjelasan kepercayaan yang menjelaskan pada jaman dahulu pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para dewa memutuskan untuk memakukan pulau Jawa dengan memindahkan Gunung Meru di India ke atas pulau jawa.

Mitos Legenda Gunung Semeru Sebagai Paku Pulau Jawa Dalam Kitab Tantu Pagelaran

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman. Dewa-dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa.

Tetapi berat gunung itu mengakibatkan  ujung pulau bagian timur terangkat  ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.

Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau Jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara bumi (manusia) dan Kayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan makhluk halus.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali.  Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara ghaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta Suci.


0 Response to "Mitos Legenda Gunung Semeru: Dalam Kitab Kuno Tantu Pagelaran"

Post a Comment

jangan diisi

iklan dalam artikel

iklan display

Iklan dalam feed